Aiptu Afrizal saat memadamkan api di tanah gambut.

Aiptu Afrizal saat memadamkan api di tanah gambut.

Bayung Lencir, ISBALE— Matahari musim kemarau terasa menyengat di langit Bayung Lencir. Di bawah terik itu, kekhawatiran lain ikut tumbuh: api.

Bagi sebagian orang, musim panas mungkin hanya berarti udara lebih gerah dan tanah yang semakin kering. Namun bagi warga Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, kemarau membawa kewaspadaan yang jauh lebih besar. Sedikit saja api lepas kendali, lahan gambut yang mengering dapat berubah menjadi ancaman.

Di tengah situasi itulah sosok Aiptu Afrizal terus bergerak.

Usianya kini 45 tahun. Sebagai anggota Kepolisian Sektor Bayung Lencir, Afrizal tidak hanya menjalankan tugas dengan seragam dan perlengkapan dinas. Ia turun langsung menemui masyarakat, berpatroli, mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, hingga ikut berjibaku ketika api benar-benar muncul.

 

Aiptu Afrizal bersama tim menembus lokasi Karhutlah menggunakan perahu. 

 

Bagi Afrizal, mencegah kebakaran bukan pekerjaan yang cukup dilakukan dari balik meja.

Ada wilayah yang harus didatangi. Ada warga yang harus diyakinkan. Ada jalur yang harus ditembus.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatiannya adalah Desa Muara Medak.

Desa ini bukan sekadar luas. Berdasarkan data statistik Kecamatan Bayung Lencir yang tercantum dalam situs resmi Satu Data Musi Banyuasin, Muara Medak memiliki luas sekitar 655 kilometer persegi atau 65.500 hektare, atau sekitar 13,51 persen dari luas Kecamatan Bayung Lencir. Sebagian besar wilayahnya berupa rawa gambut.

Kondisi geografis itu membuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran bukan perkara sederhana.

Afrizal harus menghadapi medan yang terkadang hanya bisa dilalui dengan susah payah. Patroli dilakukan melalui jalur darat maupun perairan. Ketika api muncul, perjalanan menuju lokasi pun bisa menjadi perjuangan tersendiri.

Ada kalanya ia harus meninggalkan rumah dalam waktu lama.

Bahkan, dalam tugas tertentu, lebih dari sebulan ia tidak berjumpa dengan anak dan istrinya.

Afrizal merupakan ayah tiga anak. Namun, jarak dengan keluarga menjadi bagian dari konsekuensi pengabdian yang sudah ia terima.

"Ya, itulah bentuk pengabdian kepada negara tercinta, serta kepada masyarakat. Bagi saya itu juga adalah ibadah yang harus saya jalani," ujar Afrizal.

Ketika Gambut Mengering dan Api Menjadi Ancaman

Kekhawatiran Afrizal bukan tanpa alasan.

Desa Muara Medak pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan yang membakar ribuan hektare pada tahun 2019 lalu. Beberapa waktu saat ini, kebakaran hutan dan lahan di Muara Medak tercatat sudah mencapai puluhan hektare. Besarnya ancaman kebakaran tersebut membuat helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu mencegah api semakin meluas.

Bagi orang yang pernah melihat langsung medan kebakaran gambut, kondisi itu bukan pemandangan yang mudah dilupakan.

Api di lahan gambut memiliki karakter berbeda. Permukaan yang terlihat padam belum tentu berarti api benar-benar mati. Di bawah tanah, bara dapat bertahan dan kembali muncul ketika kondisi mendukung.

Afrizal memahami risiko tersebut dari kedekatannya dengan masyarakat dan aktivitas patroli di lapangan.

 

Aiptu Afrizal mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. 

 

Ia melihat sendiri bagaimana masyarakat, personel TNI, Manggala Agni, hingga unsur lainnya harus bekerja keras menghadapi kobaran api.

"Kalau melihat teman-teman dari TNI, Manggala Agni, bahkan masyarakat turun padamkan api saya kasihan. Sangat sulit untuk bisa menjamin api di areal rawa gambut yang saat ini memang dalam kondisi kering," katanya.

Kalimat itu bukan sekadar kekhawatiran.

Justru dari situlah tekadnya semakin kuat.

Ketika sebagian orang mungkin memilih menjaga jarak dari kobaran api, Afrizal memilih mendekat.

Tak Sekadar Menyuruh, Afrizal Ikut Memadamkan

Sosialisasi menjadi salah satu senjata utama Afrizal.

Ia terus mengingatkan masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar. Pesannya sederhana: jangan menunggu api membesar untuk menyadari bahwa kebakaran dapat menjadi bencana.

Namun bagi Afrizal, memberi pemahaman kepada masyarakat tidak cukup hanya dengan berbicara.

Ketika api muncul, ia berusaha hadir bersama mereka.

Tidak selalu dengan peralatan canggih. Tidak pula selalu dengan kondisi medan yang mudah.

Jika diperlukan, peralatan sederhana pun digunakan.

"Prinsipnya masyarakat saja bahu-membahu padamkan api, pakai alat sederhana. Kalau rekan-rekan pemadam Manggala capek, saya berusaha menggantikan atau pakai alat sederhana. Pokoknya diusahakan bisa," ujarnya.

Di situlah sosok Afrizal terlihat bukan hanya sebagai aparat yang datang membawa pesan larangan.

Ia datang sebagai bagian dari masyarakat yang menghadapi ancaman yang sama.

Bersama warga, ia menyusuri wilayah yang rawan terbakar. Bersama petugas lain, ia menghadapi medan gambut yang sulit. Dan ketika tenaga mulai terkuras, ia tetap berusaha mengambil bagian.

Pengabdian yang Dibayar dengan Jarak

Di balik tugas itu, ada satu konsekuensi yang jarang terlihat: keluarga yang ditinggalkan.

Sebagai ayah tiga anak, Afrizal tentu memiliki rumah untuk pulang. Ada anak-anak yang menunggu. Ada istri yang menanti kabar.

Namun, tugas membuat waktu bersama keluarga tidak selalu bisa dipastikan.

Berhari-hari di lapangan, bahkan lebih dari sebulan tanpa bertemu anak dan istri, menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.

Bukan karena ia tidak ingin pulang.

Justru karena ada wilayah yang menurutnya harus dijaga.

Ada masyarakat yang harus diingatkan.

Dan ada api yang harus dicegah sebelum berubah menjadi bencana.

Afrizal mungkin bukan satu-satunya orang yang berdiri di garis depan pencegahan karhutbunlah. Di sana ada TNI, Manggala Agni, pemerintah, relawan, dan masyarakat yang sama-sama berjuang.

Namun, dari desa yang luasnya puluhan ribu hektare itu, kisah Afrizal memperlihatkan satu hal sederhana: mencegah kebakaran hutan dan lahan bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi tentang keberanian untuk datang sebelum api menjadi bencana.

Ketika musim panas membuat tanah gambut semakin rentan, Afrizal memilih tetap berjalan.

Meninggalkan sejenak kenyamanan rumah, menembus jalur darat dan perairan, dan berdiri bersama masyarakat.

Sebab baginya, api yang berhasil dicegah adalah kemenangan yang mungkin tidak pernah masuk berita.

Tetapi bagi sebuah desa, kemenangan itu bisa berarti menyelamatkan rumah, kebun, hutan, dan kehidupan.(lut)