Ilustrasi warga dusun V Muara Medak yang mulai kewalahan padamkan api fengan biaya operasional dan dapur umum secara swadaya.

Ilustrasi warga dusun V Muara Medak yang mulai kewalahan padamkan api fengan biaya operasional dan dapur umum secara swadaya.

BAYUNG LENCIR, ISBALE — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih membara di wilayah Dusun V, Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, membuat masyarakat harus terus bergotong royong melakukan pemadaman.

Di tengah kondisi tersebut, warga mengeluhkan kebutuhan operasional dan konsumsi selama penanganan karhutla yang hingga kini masih mengandalkan swadaya masyarakat.

Api yang berada di kawasan hutan sekitar Kampung Trans Lampung RT 09 dan RT 03 dilaporkan masih membara hingga Rabu (30/9/2026).

Tokoh masyarakat Desa Muara Medak, Toyib Amin, mengatakan warga dan petani selama ini secara bersama-sama berupaya memenuhi kebutuhan selama proses penanggulangan karhutla.

Menurut dia, hampir seluruh kebutuhan yang diperlukan masyarakat di lapangan masih ditopang melalui gotong royong.

“Semua yang dilakukan dalam berusaha menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kampung Trans Lampung RT 09 dan RT 03 Dusun V Desa Muara Medak ini asli swadaya, gotong royong sesama warga dan petani,” kata Toyib.

Tak hanya ikut memadamkan api, masyarakat juga secara swadaya menjalankan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum warga serta petani yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Toyib menyebut dapur umum tersebut bahkan telah berjalan sekitar dua bulan.

“Termasuk menyediakan dapur umum selama dua bulan ini, semua asli swadaya gotong royong sesama warga atau petani dalam wilayah Trans Lampung,” ujarnya.

Kondisi itu menjadi keluhan masyarakat karena semakin lama api bertahan, semakin besar pula kebutuhan yang harus mereka keluarkan. Warga yang ikut dalam pemadaman juga harus meluangkan waktu dan meninggalkan aktivitas pekerjaan mereka.

Menurut Toyib, masyarakat yang berada di lokasi bukan hanya menghadapi api dan asap, tetapi juga kelelahan akibat harus berulang kali melakukan pemadaman.

“Masyarakat yang memadamkan mengalami batuk dan kelelahan,” katanya.

Warga pun mempertanyakan sejauh mana dukungan penanganan karhutla dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang berada di titik-titik kebakaran.

Keluhan tersebut muncul di tengah adanya informasi mengenai Bantuan Presiden (Banpres) untuk penanganan karhutla di sejumlah daerah di Sumatera Selatan. Untuk Kabupaten Musi Banyuasin, bantuan tersebut disebut mencapai Rp20 miliar.

Pemerintah Kabupaten Muba sebelumnya menyebut bantuan tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan penanganan karhutla, di antaranya operasi pemadaman, logistik, bahan bakar kendaraan, serta makanan dan minuman personel.

Namun, bagi masyarakat Muara Medak, kebutuhan di lapangan masih dirasakan berat karena dapur umum dan berbagai keperluan warga yang terlibat langsung dalam pemadaman masih bertahan dari swadaya.

Warga berharap dukungan penanganan karhutla tidak hanya tersedia secara administratif, tetapi juga benar-benar menjangkau masyarakat yang berada di lokasi kebakaran.

Bagi masyarakat Muara Medak, dukungan operasional dan logistik menjadi kebutuhan penting selama api masih membara. Terlebih, mereka harus mempertahankan pemadaman sekaligus memenuhi kebutuhan makan dan minum warga yang terlibat di lapangan.

“Selama api masih ada, masyarakat tetap turun memadamkan. Tapi kebutuhan operasional dan dapur umum juga harus dipikirkan,” menjadi harapan warga agar penanganan karhutla di Muara Medak tidak sepenuhnya bertumpu pada gotong royong masyarakat. (lut)